Masa cuti melahirkan merupakan masa transisi yang penuh perubahan bagi para Mama yang bekerja bukan hanya secara fisik, tapi juga emosional. Di Indonesia, cuti melahirkan minimal berlangsung selama 3 bulan, waktu yang bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memulihkan diri dan membangun rutinitas bersama Si Kecil sebelum kembali ke dunia kerja.
Kembali bekerja setelah melahirkan bukan hal mudah, tapi dengan persiapan bertahap sejak awal cuti, Mama bisa lebih tenang saat hari itu tiba. Yuk, kita bagi masa cuti menjadi tiga bagian agar lebih mudah dipersiapkan.
Bulan Ke-1: Pemulihan Fisik dan Mental
Melahirkanba ik secara normal maupun caesar adalah proses luar biasa yang membutuhkan waktu pemulihan, tidak hanya secara fisik tapi juga mental. Di bulan pertama, tubuh Mama sedang beradaptasi, hormon belum stabil, dan perubahan emosi adalah hal yang wajar. Di sisi lain, Mama juga sedang belajar mengenal Si Kecil, memahami ritmenya, dan membentuk ikatan yang kuat.
Fokus utama di bulan ini adalah: banyak istirahat, perkuat bonding dengan Si Kecil lewat sentuhan, pelukan, dan menyusui, serta penuhi kebutuhan nutrisi Mama dengan makan makanan yang membuat hati bahagia dan tubuh bertenaga. Jangan lupa juga untuk tetap melakukan kontrol ke dokter atau bidan untuk memastikan pemulihan berjalan baik.
Bulan Ke-2: Mulai Menyusun Rutinitas dan Persiapan Praktis Jelang Kembali Bekerja
Setelah melalui fase pemulihan dan membangun ikatan di bulan pertama, Mama bisa mulai perlahan menyusun rencana kembali bekerja di bulan kedua. Tidak perlu terburu-buru, cukup lakukan sedikit demi sedikit agar Mama tidak merasa kewalahan. Fokus utama bulan ini adalah mempersiapkan perlengkapan penting dan menyesuaikan ritme baru bersama Si Kecil.
1. Peralatan laktasi
Proses menyusui tetap bisa dilanjutkan meski Mama kembali bekerja dengan bantuan peralatan laktasi seperti pompa ASI, botol atau kantong penyimpanan ASI, serta tas penyimpan ASI (cooler bag). Di bulan ini, Mama bisa mulai mencoba pumping secara teratur, misalnya setiap pagi atau setelah menyusui, untuk mulai membangun stok ASI sambil membiasakan diri dengan ritmenya.
2. Tentukan siapa yang akan merawat Si Kecil
Sebelum kembali bekerja, penting untuk menentukan siapa yang akan merawat Si Kecil. Apakah Mama akan menggunakan jasa pengasuh, meminta bantuan orang tua atau kerabat, atau memilih menitipkan Si Kecil di daycare?
Apapun pilihannya, pastikan dilakukan jauh-jauh hari dan dikomunikasikan secara matang dengan pasangan. Mama juga bisa mulai membiasakan Si Kecil dengan sosok pengasuh barunya, agar proses adaptasi berjalan lebih lembut dan minim stres, mempersiapkan hal ini terlalu mepet dengan hari kembali masuk kantor agar bisa menghindari kendala di luar ekspektasi.
3. Menyusun jadwal kegiatan Si Kecil
Setelah Mama dan Si Kecil mulai menemukan ritme yang nyaman, Mama bisa mulai menyusun jadwal harian sederhana, seperti waktu bermain, tidur atau istirahat, memberikan ASI, mandi, dan mengganti popok. Jadwal ini juga akan sangat membantu pengasuh nantinya. Terutama dalam urusan mengganti popok, pastikan kenyamanan Si Kecil tetap terjaga agar bebas dari ruam dan iritasi. Pilihlah popok yang nyaman, Bebas Bocor, Bebas Iritasi, dan Bebas Gerak seperti Genki Moko Moko, agar Si Kecil tetap aktif dan bahagia saat Mama mulai kembali bekerja.
Bulan Ke-3: Penerapan dan Simulasi Rutinitas Kembali Bekerja
Mama dapat mulai membagi waktu pengasuhan secara bertahap, misalnya 1–2 jam sehari bersama pengasuh atau kerabat yang telah dipilih. Ini akan membantu Si Kecil mengenal dan merasa nyaman dengan orang yang akan merawatnya saat Mama bekerja. Pastikan Mama juga menyampaikan informasi penting seperti rutinitas tidur, waktu menyusu, cara menenangkan Si Kecil saat rewel, hingga kebiasaan kecil yang membuat Si Kecil merasa nyaman.
Selain berlatih dengan pengasuh, Mama juga bisa mulai membiasakan Si Kecil menyusu ASI dari botol, agar ia tidak kaget saat Mama tidak ada di rumah. Cobalah menyusui dengan botol secara perlahan—misalnya sekali sehari. Mama juga bisa mengajari pengasuh cara memanaskan ASI yang benar, yaitu dengan merendam botol dalam air hangat (bukan direbus atau dipanaskan di microwave), agar nutrisi ASI tetap terjaga.
Kebersihan popok juga perlu menjadi perhatian utama. Pastikan pengasuh memahami pentingnya segera mengganti popok setiap kali Si Kecil buang air besar atau jika popok sudah penuh. Ajarkan juga cara membersihkan area genital bayi dengan lembut untuk mencegah iritasi. Gunakan popok yang lembut dan cepat menyerap seperti Genki Moko Moko agar Si Kecil tetap nyaman bergerak saat Mama kembali bekerja.
Saat hari pertama kembali bekerja tiba, wajar jika Mama merasa lelah, frustrasi, atau bahkan dipenuhi keraguan—terkadang muncul konflik batin antara ingin tetap bekerja atau memilih tinggal di rumah. Tidak sedikit ibu yang mempertimbangkan untuk berhenti bekerja setelah melewati masa cuti melahirkan.
Jika Mama merasa sedih atau khawatir di minggu-minggu awal, percayalah bahwa perasaan itu tidak akan berlangsung selamanya. Ini adalah bagian dari proses penyesuaian yang alami. Jangan abaikan perasaan Mama, tapi juga ingat: seperti halnya tahapan tumbuh kembang Si Kecil, fase ini pun akan berlalu.
Jadi, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Apa pun pilihan Mama, selama dilakukan dengan cinta, Mama tetap ibu terbaik untuk Si Kecil.
Anakku gak rewel lagi karena popok Moko Moko daya serap tinggi, popok tidak gampang kembung dan juga anakku bergerak bebas tidak takut iritasi dan ruam.
Semenjak ketemu sama Genki Moko Moko anakku kulitnya ga gampang merah-merah lagi. Udah gitu bebas bergerak, ga gampang bocor. Bikin nyaman seharian, juga bebas bergerak seharian